Makalah Teori Bilangan “ Sejarah Bilangan dan Sistem Bilangan ”
Makalah
Teori Bilangan
“Sejarah
Bilangan dan Sistem Bilangan”
Diajukan
sebagai tugas terstruktur untuk
Mata Kuliah :
Teori Bilangan
Dosen Pengampu
: Nuqthy Faiziyah,S.Pd,M.Pd
Disusun Oleh :
1. Aisyah Ilmi Primadani ( A410130081 )
2. Retno
Arumsari ( A410130095 )
3. Tandyo Ardhana ( A410130108 )
Fakultas / Program
Studi : KIP / Pendidikan Matematika
Kelas / Semester : C /
1 (satu)
UNIVERSITAS
MUHAMADIYAH SURAKARTA
Jl. A. Yani Pabelan Kartasura Telp. (0271)717417
Tromol Pos 1 Surakarta
Kode pos 57102
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang
telah memberikan berbagai kenikmatan yang tiada terhingga banyaknya. Shalawat
beserta salam semoga tetap tercurahkan pada baginda alam Nabi besar Muhammad
SAW. Semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaat darinya, Amiin. Tak ada
gading yang tak retak, begitulah perumpamaan manusia yang tak bisa lepas dari
kekhilafan dan kealfaan.
Makalah ini tak lain sebagai salah satu tugas pada mata kuliah Teori
Bilangan yang dibina oleh Ibu Nuqthy Faiziyah yakni mengenai “Sejarah
Bilangan dan Sistem Bilangan”.
Dalam pembuatan makalah ini
penulis menyadari bahwasanya tulisan ini masih banyak kekurangannya dan jauh
pula dari kesempurnaan karena kesempurnaan itu sesungguhnya hanyalah milik
Allah semata. Akhir kata penulis mengucapkan
semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca. Tak lupa kritik dan saran
yang sifatnya membangun sangatlah penulis nantikan.
Kartasura, Oktober 2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ..................................................................................
2
DAFTAR
ISI.................................................................................................
3
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................
4
A.
LATAR BELAKANG.............................................................................
4
B.
RUMUSAN MASALAH.........................................................................
5
C.
TUJUAN..................................................................................................
5
BAB II PEMBAHASAN..................................................................
6
A.
SEJARAH BILANGAN..........................................................................
6
B. SITEM
BILANGAN...............................................................................
9
1.
SISTEM BILANGAN ASLI....................................................................
9
2.
SISTEM BILANGAN CACAH..............................................................
10
3.
SISTEM BILANGAN BULAT...............................................................
11
4.
SISTEM BILANGAN RASIONAL........................................................
12
5.
SISITEM BILANGN IRASIONAL........................................................
14
6.
SISTEM BILANAGAN RIIL..................................................................
16
BAB III PENUTUP.........................................................................
18
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................
19
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
menghitung (counting) , seorang matematikawan biasanya tidak menghitung jumlah dari objek-objek dalam suatu koleksi
pada suatu waktu, tetapi lebih mencari untuk menentukan pola-pola dan hubungan
diantara objek-objek yang memungkinkan mereka untuk menghitung dengan cara
tidak langsung. Dalam hal ini, menghitung terjadi dalam banyak bagian dari
matematika dan sering melibatkan metode metodeyang cukup canggih.
Beberapa
formula menghitung kuno dapat ditelusuri pada abad ke-7. Tetapi teori
menghitung ini mulai dikembangkan pada abad ke-16, ketika matematikawan
matematikawan mulai menganalisis permainan permainan judi (games of change)
tertentu. Dalam usaha untuk menjawab pertanyaan pertanyaan tentang pelemparan
dadu dan penarikan kartu kartu, beberapa orang metematikawan Eropa pada saat
itu mulai mengorganisasi hasil hasil mereka ke dalam teori menghitung yang
formal. Salah seorang tokoh utama dalam pengembangan ini adalah matematikawan
Perancis, Blaise Pascal, yang menulis sebuah makalah berkaitan dengan
teori kombinasi kombinasi.
Karya yang
dilakukan oleh pascal dan yang lain sekarang dikembangkan dalam suatu cabang
matematika yang disebut combinatorial analysis (kombinatorik). Dua aspek
besar dalam subyek ini adalah permutasi dan kombinasi yang mempunyai aplikasi
dalam teori bidang peluang.
Kombinatorial (combinatoric)
adalah cabang matematika yang mempelajari pengaturan objek objek. Solusi yang
ingin kita peroleh dengan kombinatorial ini adalah jumlah cara pengaturan objek
objek tertentu di dalam kumpulannya. Kombinatorial didasarkan pada hasil yang
diperoleh dari suatu eksperimen/percobaan atau event (kejadian/peristiwa). Percobaan adalah proses
fisik yang hasilnya dapat diamati.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana
sejarah bilangan ?
b. Apa saja dan Bagaimana sistem bilangan ?
C. Tujuan
a. untuk mengetahui
sejarah bilangan.
b. untuk mengetahui
definisi dan operasi dalam sistem bilangan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Bilangan
Sejarah bilangan dapat kita telusuri dengan berbagai
pendekatan. Kita dapat menyusun ulang sejarah bilangan berdasarkan solusi
persamaan, yaitu persamaan linear dan persamaan kuadrat. Dengan modal bilangan
asli dan persamaan linear kita akan sampai pada kesimpulan bahwa harus ada
bilangan nol, sistem bilangan bulat, dan sistem bilangan rasional. Kemudian,
dengan persamaan kuadrat kita akan sampai pada kesimpulan bahwa harus ada
bilangan real dan bilangan kompleks.
Secara sederhana, sejarah bilangan dapat kita mulai
dengan bilangan Asli. Bilangan Asli merupakan bilangan yang pertama kali
dikenal manusia. Hal ini karena secara alamiah manusia akan melihat berbagai
benda/objek dan kemudian untuk keperluan tertentu mereka harus menghitungnya.
Mereka memiliki, uang, kambing, anak, pohon, saudara, dan lain-lain. Untuk
menghitung benda-benda tersebut bilangan yang digunakan adalah bilangan Asli.
Tentu saja mereka tidak menyadari bahwa bilangan yang mereka gunakan untuk menghitung
tersebut adalah bilangan Asli. Penamaan tersebut dilakukan setelah jaman modern
untuk keperluan pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian kita dapat
mendefinisikan bahwa bilangan asli adalah bilangan yang digunakan untuk
menghitung. Notasi himpunan bilangan asli adalah ℕ. Anggota bilangan asli adalah N={1,2,3,…}.
Bilangan asli yang sudah dikenal tentu harus dilengkapi
dengan suatu aturan untuk mengoperasikan bilangan tersebut. Operasi tersebut
adalah penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Kita sudah
mengetahui bahwa bilangan asli bersifat tertutup terhadap penjumlahan. Artinya,
penjumlahan dua bilangan asli akan menghasilkan bilangan asli. Tetapi tidak
demikian dengan pengurangan. Kita akan mendapati bahwa jika sebuah bilangan
asli dikurangi dengan bilangan asli hasilnya belum tentu bilangan asli. Sebagai
contoh, 5 – 5 = 0. Jelas bahwa bukan anggota bilangan asli. Oleh karena
itu, sistem bilangan asli harus diperluas dengan menyertakan 0 sebagai anggota.
Perluasan ini kemudian dikenal sebagai bilangan Cacah.
Bilangan nol merupakan salah satu penemuan yang sangat
penting. Sebelum ada bilangan nol, menuliskan bilangan-bilangan yang besar
sangat sulit. Bahkan beberapa bilangan memiliki notasi yang sama (untuk lebih
lengkap, silakan baca buku Berhitung Sejarah dan Pengembangannya yang ditulis
oleh Dali S. Naga). Dengan adanya bilangan nol, penulisan bilangan-bilangan
yang besar pun menjadi mudah. Bilangan nol pertama kali digunakan di China dan
India, tetapi kemudian dipopulerkan oleh Bangsa Arab pada era keemasan Islam.
Perkembangan selanjutnya, bilangan Cacah pun ternyata
tidak dapat sepenuhnya merepresentasikan objek dalam dunia nyata. Dalam dunia
nyata ada orang yang memiliki uang, ada orang yang tidak memiliki uang, dan
bahkan ada orang yang memiliki utang. Keadaan pertama dapat kita tulis dengan
bilangan asli, sedangkan keadaan kedua bisa kita tulis dengan bilangan 0.
Bagaimana dengan keadan yang ketiga jika yang menjadi kerangka acuan adalah
keberadaan uang. Hal ini akan membawa kita pada perluasan sistem bilangan cacah
menjadi menjadi bilangan bulat.
Perluasan bilangan bulat dapat juga dijelaskan dengan
operasi pada dua bilangan cacah. Dengan operasi pengurangan, ternyata diketahui
bahwa jika dua bilangan cacah dikurangkan maka hasilnya belum tentu bilangan
cacah. Sebagai contoh, 6 – 4 = 2 dan 2 masih merupakan bilangan cacah, tetapi 4
– 6 tidak ada interpretasinya dalam bilangan cacah. Selanjutnya digunakan
bilangan negatif untuk menyatakan hasil 4 – 6. Dengan demikian, karena 4 – 6 merupakan
kebalikan dari , maka 4 – 6 = -2. Gabungan bilangan cacah dengan bilangan
negatif ini yang kemudian membentuk bilangan bulat.
Notasi himpunan bilangan bulat adalah ℤ, dan anggota bilangan bulat
adalah Z={…,-3,-2,-1,0,1,2,3,…}.
Perhatikan bahwa -2 tidak hanya dihasilkan dari 4-6 , tetapi dapat juga dihasilkan dari 5 – 7, 10 – 12, 20 – 22 dan masih banyak lagi. Berdasarkan hal tersebut, setiap bilangan bulat mewakili suatu hasil pengurangan dalam cacah. Sebagai contoh, bilangan 2 mewakili hasil-hasil dari {2 – 0, 3 – 1, 4 – 2, …}. Bilangan -3 mewakili hasil-hasil dari {0 – 3, 2 – 5, 7 – 10, …}. Hal ini berarti anggota himpunan bilangan bulat adalah hasil operasi pengurangan pada bilangan asli.
Perhatikan bahwa -2 tidak hanya dihasilkan dari 4-6 , tetapi dapat juga dihasilkan dari 5 – 7, 10 – 12, 20 – 22 dan masih banyak lagi. Berdasarkan hal tersebut, setiap bilangan bulat mewakili suatu hasil pengurangan dalam cacah. Sebagai contoh, bilangan 2 mewakili hasil-hasil dari {2 – 0, 3 – 1, 4 – 2, …}. Bilangan -3 mewakili hasil-hasil dari {0 – 3, 2 – 5, 7 – 10, …}. Hal ini berarti anggota himpunan bilangan bulat adalah hasil operasi pengurangan pada bilangan asli.
Bilangan bulat yang disertai dengan operasi penjumlahan
dan perkalian membentuk struktur tertentu dalam matematika. Struktur yang
dimiliki bilangan bulat adalah, terhadap operasi penjumlahan, sistem bilangan
bulat membentuk grup yang komutatif (grup abelian). Hal ini berarti terhadap
penjumlahan bilangan bulat bersifat tertutup, asosiatif, memiliki unsur
identitas, memiliki invers (lawan) dan komutatif,. Terhadap perkalian, bilangan
bulat memiliki sifat, tertutup, komutatif, asosiatif, dan mempunyai unsur
identitas. Dengan demikian sistem bilangan bulat memiliki sifat yang lebih
lengkap daripada sistem bilangan sebelumnya.
Selanjutnya, terhadap operasi pembagian, ternyata
bilangan bulat tidak bersifat tertutup. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering
harus membagi suatu objek menjadi beberapa bagian. Setelah dibagi hasilnya bisa
utuh bisa juga tidak utuh. Sebagai contoh, jika kita memiliki 10 apel kemudian
akan dibagikan kepada 5 anak, maka masing-masing anak akan mendapat 2 apel
(masing-masing apel masih utuh). Tetapi jika 10 apel tersebut akan dibagikan
kepada 20 anak, maka setiap anak mendapat setengah apel. Tidak ada bilangan
bulat yang dapat digunakan untuk menyatakan hasil tersebut. Oleh karena itu,
sistem bilangan diperluas.
Perluasan dari sistem bilangan bulat tersebut adalah
sistem bilangan rasional. Bilangan rasional didefinisikan sebagai bilangan yang
dapat ditulis sebagai
dengan m dan n
bilangan bulat dan n≠0. Dengan perluasan sistem bilangan ini, maka persoalan
tentang pembagian dapat diselesaikan. Jika sistem bilangan bulat membentuk
struktur grup abelian terhadap operasi penjumlahan, maka sistem bilangan
rasional membentuk lapangan (Field).

Selanjutnya, kita semua mengenal teorema Pythagoras. Jika
kita mempunyai segitiga siku-siku dengan sisi tegak masing-masing 1 satuan
panjang, maka panjang sisi miringnya (hypotenusa) adalah
. Namun,
tidak dapat
dinyatakan dalam bentuk m/n dengan m dan n bilangan bulat dan n≠0 (bukti
lengkapnya lihat di buku analisis real). Ini berarti ada bilangan lain di luar
bilangan rasional. Bilangan tersebut dikenal sebagai bilangan irasional.
Gabungan bilangan rasional dan bilangan irasional membentuk sistem bilangan
real. Bilangan real dapat didefinisikan sebagai bilangan yang dapat digunakan
untuk mengukur. Sistem bilangan real membentuk lapangan terurut dan lengkap.


Perluasan himpunan bilangan real adalah himpunan bilangan
kompleks. Kemunculan bilangan kompleks dapat diilustrasikan oleh usaha mencari
solusi persamaan kuadrat
. Bilangan yang
memenuhi persamaan kuadrat itu adalah bilangan yang kuadratnya adalah -1. Tidak
ada bilangan real yang memenuhi sifat demikian. Oleh karena itu, muncul
himpunan bilangan kompleks. Himpunan bilangan kompleks dinotasikan dengan
dan
$latex i= \sqrt{-1}} $.


B. Sistem Bilangan
1. Sistem
Bilangan Asli
a. Definisi
Bilangan asli merupakan bilangan
bulat positif yang diawali angka 1 sampai tak terhingga.
Contoh bilangan asli : 1, 2, 3, 4,
5, 6, …..
b. Operasi
Himpunan bilangan ali di notasikan N
N = {1,2,3,.....,
).

Bilangan asli merupakan bilangan bulat positif
Bilangan asli terdiri dari bilangan genap, bilangan
ganjil, dan bilangan prima.
c. Sifat-Sifat Operasi
Sifat
komutatif penjumlahan /perkalian:



Sifat
assosiatif penjumlahan/ perkalian:



Ada unsur identitas penjumlahan/ perkalian:
Ada bilangan asli
0 sehingga
untuk setiap
atau


Ada bilangan asli 1 sehingga
untuk setiap
.


2. Sistem
Bilangan Cacah
a. Definisi
Bilangan
cacah merupakan bilangan yang diawali dengan angka nol (0) sampai tak
terhingga. Contoh bilangan cacah : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6 …..
b. Operasi
Notasi himpunan bilangan cacah adalah
atau
.


Sistem bilangan cacah meliputi himpunan bilangan cacah
dan 2 operasi yang dinamakan penjumlahan dan perkalian.
Notasi sistem bilangan cacah adalah
atau
atau
atau (
.




Definisi
Kesamaan
Untuk setiap
bilangan cacah a dan b,
berarti a dan b mewakili bilangan cacah yang sama.

Sifat
Tertutup Penjumlahan
dan perkalian
Untuk setiap bilangan cacah a dan b,
merupakan bilangan cacah dan
(atau
) merupakan bilangan cacah.



c. Sifat-Sifat Operasi
Sifat komutatif
penjumlahan /perkalian:



Sifat
assosiatif penjumlahan/ perkalian:



Ada unsur identitas penjumlahan/ perkalian:
Ada bilangan cacah
0 sehingga
untuk setiap a Î
C
atau


Ada bilangan cacah 1 sehingga
untuk setiap
.


Sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan, yaitu
distribusi kiri dan distribusi kanan yaitu:



3. Sistem
Bilangan Bulat
a. Definisi
Bilangan bulat
merupakan bilangan yang terdiri dari bilangan positif, bilangan negatif dan
bilangan bulat. Contoh bilangan bulat : -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3……
b. Operasi
Notasi himpunan
bilangan bulat adalah Z atau B.
2 operasi sistem bilangan bulat yang dinamakan
penjumlahan dan perkalian.
Notasi sistem
bilangan bulat adalah
atau
atau
atau
.




c. Sifat-Sifat
Operasi
Untuk semua
bilangan bulat p, q, dan r berlaku sifat-sifat :
1. Tertutup untuk
operasi penjumlahan dan perkalian


2. Komutatif untuk operasi penjumlahan dan perkalian


3. Asosiatif
untuk operasi penjumlahan dan perkalian


4. Ada elemen
invers penjumlahan yang tunggal
Untuk
setiap bilangan bulat r, ada bilangan bulat yang tunggal demikian sehingga 

5. Elemen Identitas :
Ada elemen identitas penjumlahan yang tunggal
Untuk setiap bilangan bulat p, ada
bilangan bulat yang tunggal yaitu 0,
demikian sehingga
.

Ada elemen
identitas perkalian yang tunggal
Untuk setiap bilangan bulat q, ada
bilangan bulat yang tunggal yaitu 1, demikian sehingga 1 . q = q . 1 = q
.

6. Distributif perkalian terhadap penjumlahan


7. Perkalian dengan nol
Jika p adalah bilangan
bulat, maka
.

4. Sistem Bilangan Rasional
a. Definisi
Bilangan rasional adalah suatu bilangan yang dapat dinyatakan sebagai suatu
pembagian antara 2 bilangan bulat. Atau dengan kata lain, Bilangan
rasional adalah bilangan yang dinyatakan sebagai pecahan dimana p dan q adalah bilangan-bilangan
bulat (
). Contohnya :
,dll.


b. Operasi
Bilangan
Rasional juga merupakan bilangan yang merupakan hasil bagi bilangan bulat dan
bilangan asli. Himpunan semua bilangan rasional ditulis dengan notasi Q. Sistem
operasi pada bilangan rasional meliputi penjumlahan, pengurangan, pembagian dan
perkalian.
c. Sifat-Sifat
Operasi
Untuk setiap bilangan
rasional
dan
berlaku sifat‑sifat berikut ini.


1) Tertutup, untuk operasi penjumlahan dan perkalian


2) Komutatif, untuk operasi penjumlahan
dan perkalian


3)
Asosiatif, untuk operasi
penjumlahan dan perkalian


4) Distributif, perkalian untuk penjumlahan

5)
Ada elemen identitas penjumlahan dan
perkalian
Ada bilangan
rasional tunggal,
, sehingga


Ada
bilangan rasional tunggal,
, sehingga


6) Ada elemen invers penjumlahan dan perkalian
Untuk
setiap
ada invers penjumlahan,



Untuk
setiap
ada invers perkalian
,


sehingga


7) Perkalian dengan nol

5. Bilangan
Irasional
a. Definisi
Bilangan irrasional yaitu suatu
bilangan yang tidak dapat dinyatakan sebagai pembagi antara dua bilangan atau
tidak bisa dinyatakan dalam bentuk
, dengan
. Contohnya :
dll.



b. Operasi
1. Penjumlahan dan
Pengurangan
Penjumlahan dan pengurangan pada
bentuk akar dapat dilakukan jika memiliki suku-suku yang sejenis. jika a, c = Rasional dan b ≥ 0, maka berlaku
a√b + c√b = (a + c)√b
a√b - c√b = (a -
c)√b
Kalian tentu masih ingat bahwa
(a^)" = a^'. Rumus tersebut juga berlaku pada operasi perpangkatan dari
akar suatu bilangan.
Dengan memanfaatkan sifat-sifat pada bilangan
berpangkat, kalian akan lebih mudah menyelesaikan soal-soal operasi campuran
pada bentuk akarnya. Sebelum melakukan operasi campuran, pahami urutan operasi
hitung berikut.
Prioritas yang
didahulukan pada operasi bilangan adalah bilangan-bilangan yang ada dalam tanda
kurung.
Jika tidak ada
tanda kurungnya maka
pangkat dan akar
sama kuat;
kali dan bagi sama
kuat;
tambah dan kurang
sama kuat, artinya mana yang lebih awal dikerjakan terlebih dahulu;
kali dan bagi lebih
kuat daripada tambah dan kurang, artinya kali dan bagi dikerjakan terlebih
dahulu.
Sifat 1: Sifat tertutup
a. Sifat tertutup penjumlahan
Apabila a dan b adalah bilangan-bilangan irasional,
maka a+b adalah bilangan irasional.
b. Sifat tertutup pengurangan
Apabila a dan b bilangan-bilangan irasional, maka a≠b,
maka a-b adalah bilangan irasional
a. Sifat tertutup penjumlahan
Apabila a dan b adalah bilangan-bilangan irasional,
maka a+b adalah bilangan irasional.
b. Sifat tertutup pengurangan
Apabila a dan b bilangan-bilangan irasional, maka a≠b,
maka a-b adalah bilangan irasional
Sifat 2: Sifat Komutatif
a. Sifat komutatif penjumlahan
Apabila a dan b bilangan-bilangan irasional maka
a+b=b+a
b. Sifat komutatif perkalian
Apabila a dan b bilangan-bilangan irasional maka
a.b=b.a
a. Sifat komutatif penjumlahan
Apabila a dan b bilangan-bilangan irasional maka
a+b=b+a
b. Sifat komutatif perkalian
Apabila a dan b bilangan-bilangan irasional maka
a.b=b.a
Sifat 3: Sifat Assosiatif
a. Sifat assosiatif penjumlahan
Apabila a,b dan c bilangan-bilangan irasional, maka
a+(b+c)=(a+b)+c
b. Sifat assosiatif perkalian
Apabila a,b dan c bilangan-bilangan irasional, maka
a.(b.c)=(a.b).c
a. Sifat assosiatif penjumlahan
Apabila a,b dan c bilangan-bilangan irasional, maka
a+(b+c)=(a+b)+c
b. Sifat assosiatif perkalian
Apabila a,b dan c bilangan-bilangan irasional, maka
a.(b.c)=(a.b).c
Sifat 4: Sifat konselais
Apabila a,b dan c adalah bilangan-bilangan irasional maka :
1. a + c = b + c , maka a = b
Apabila a,b dan c adalah bilangan-bilangan irasional maka :
1. a + c = b + c , maka a = b
2. a . c = b .
c , maka a = b
3. a – c = b –
c , maka a = b
4. a : c = b :
c , maka a = b
Sifat 5: Sifat distributif
Apabila a,b dan c bilangan-bilangan irasional maka :
1. a. (b + c) =
(a.b) + (a.c)
2. a. (b – c) =
(a.b) – (a.c)
3. (a + b) : c
= (a : b) + (b : c)
4. (a – b) : c
= (a : b) – (b : c)
Sifat 6: Elemen identitas
a. Identitas penjumlahan
Apabila a adalah bilangan irasional,
maka a + 0 = 0 + a= a
b. Identitas Perkalian
Apabila a
adalah bilangan irasional, maka a.1 = 1 . a = a
Sifat 7: Perkalian dengan nol
Apabila a bilangan irasional, maka a.0 = 0.a = 0
Sifat 8: Sifat Invers
a. Invers Penjumlahan
Apabila
a bilangan irasional dimana -a adalah bilangan irasional atau invers dari a,
maka a + (-a) = 0,
b. Invers Perkalian
Apabila
a adalah bilangan irasional, maka terdapat bilangan irasional lainnya 1/a,
sedemikian sehingga a. 1/a = 1
Sifat 9: Trikotomi
Apabila
a dabn b adalah bilangan-bilangan irasional, maka berlaku salah satu dari 3
relasi berrikut :
1. a < b
2. a = b
3. a > b
Sifat 10: Transitif urutan
Apabila
a,b dan c adalah bilangan-bilangan irasional, a < b dan b < c, maka a
< c
6. Sistem Bilangan Riil
a. Definisi
Bilangan
riil yaitu suatu bilangan yang merupakan penggabungan dari bilangan rasional
dan bilangan irrasional. Contohnya:
,dll.

b. Operasi
Setiap operasi dasar bilangan riil dapat dioperasikan
dengan operasi penjumlahan
, pengurangan
, perkalian
, dan pembagian
.




c. Sifat-Sifat Operasi
1. Sifat komutatif

2. Sifat asosiatif


3. Sifat distributif kali terhadap tambah

4. Unsur kesatuan
Terdapat unsur 0 (unsur kesatuan tambah atauunsur nol)

unsur 1 (unsur kesatuan kali atau unsur satuan)

5. Unsur balikan (invers)
(i) Untuk setiap x di R terdapat –x di R, sehingga x +
(-x) = 0 ( -x lawan dari x)
(ii) Untuk setiap x
di
terdapat
(
di R sehingga




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Setelah kurang lebih 2 minggu kami
membuat makalah ini, Kami memperoleh banyak informasi praktis yang
tersedia di internet, pada khususnya “Sejarah
Bilangan dan Sistem Bilangan” dan sekaligus bagi kami sebagai tambahan
ilmu pada bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi yang semakin berkembang
pesat. Dalam hal tersebut karena kita menggunakan E-Mail sebagai sarana penyampaiannya.
DAFTAR PUSTAKA
http://alanbudi10.blogspot.com/2011/03/rasional-irasional.html
http://vedbromainzya.wordpress.com/2013/06/21/himpunan-bilangan-irasional/
http://vedbromainzya.wordpress.com/2013/06/21/himpunan-bilangan-irasional/
Comments
Post a Comment